S-Distorial

Tulisan Terbaru

Sandékala dan Ririwa

Ditulis oleh: Sukabumi Discovery Pada Jumat, 24 Februari 2017 | 09.54

SANDÉKALA DAN RIRIWA DI MASYARAKAT SUNDA
Oleh: Kang Warsa
Guru MTs Riyadlul Jannah- Anggota PGRI Kota Sukabumi

Terdapat banyak sekali penamaan hantu di dalam kehidupan masyarakat, dari mulai hantu berukuran kerdil, pelontos, hingga hantu-hantu dengan ukuran tubuh tinggi melangit, berbadan besar, gempal, tentu dilengkapi dengan gigi taring yang cukup panjang. Serba menakutkan. Di masyarakat  Sunda sendiri banyak ditemui penamaan hantu dengan berbagai karakteristik dan sifat yang dimilikinya. Kunti merupakan sebutan bagi hantu perempuan berambut panjang, selalu mengenakan daster berwarna putih dan dilengkapi oleh punggung bolong dipenuhi oleh belatung. 

Di masyarakat yang hidup di lereng-lereng gunung seperti Cipeueut dan Bangbayang, mitologi tentang adanya Buta Héjo masih merupakan perbincangan hangat dan sering diucapkan oleh sebagian besar masyarakat. Untuk menakut-nakuti seorang anak bandel, masyarakat di kaki Gunung Arca masih sering mengungkapkan: " Jangan main ke gunung sebelah sana, nanti kamu bisa ditangkap oleh Buta Héjo." Di wilayah lain, sikap dan tabiat Buta Héjo ini identik dengan genderewo.

Pembahasaan berbagai jenis rupa dan nama hantu seperti di atas memang masih diyakini oleh masyarakat Sunda sampai sekarang. Di kampung saya pernah ada seseorang entah berkelakar atau memang apa adanya mengatakan:  pernah bertemu dengan Kunti, pernah mengejar Kunti. Masyarakat lain ada yang mengatakan dirinya pernah dicegat oleh Memedi di pemakaman umum. Ada lagi yang menyebutkan dirinya pernah bertemu dengan Buta Héjo di bawah pohon beringin besar. 

Obrolan di dalam kehidupan masyarakat mengenai persoalan hantu yaitu, semua jenis hantu juga memiliki rasa takut, tidak jauh berbeda dengan manusia. Para hantu itu takut oleh berbagai macam hal, misalnya: Kuntilanak itu takut oleh binatang seperti jengkerik dan takut juga oleh paku. Tuyul itu takut oleh bawang putih dan untuk menggagalkan misinya dalam mencuri uang, orang kampung biasa menggantungkan kepiting sawah tepat di pintu rumah. Kecuali itu, para Kyai pun tidak ketinggalan memberikan pandangan, semua hantu itu takut bukan oleh barang-barang tadi, melainkan oleh wafaq, kertas yang ditulisi oleh mantera-mantera susunan rajah huruf Arab. Penempelan wafaq di dalam rumah telah menjadi kebiasaan baru di masyarakat Sunda pada akhir dekade 90-an.

Berbagai cerita dan obrolan mengenai hantu, dari dulu hingga sekarang bisa dikatakan sangat popular. Bukan  dalam dongeng Sunda saja, juga telah dimasukkan ke dalam cerita audio-visual seperti ke dalam film. Malahan, hampir 80% film dalam negeri ini bergenre horror, cerita hantu. Bukan apa-apa, film-film bergenre horror yang selalu melibatkan hantu ini memang bisa membuat jantung penonton kembang-kempis, mengoyak dan mengecoh emosi para penonton.

Selain nama-nama tersebut di atas, di masyarakat Sunda sendiri telah sangat popular dua nama hantu: Sandékala dan Ririwa. Sandékala merupakan hantu yang tidak jauh berbeda dengan kunti atau kelongwewe. Hantu jenis ini memiliki kebiasaaan mencuri dan menyembunyikan anak-anak ke dalam semak belukar. Sandékala biasa keluar ketika pergantian waktu dari siang ke malam, dalam term Kasundaan disebut Wanci Harieum Beungeut. Para orangtua di perkampungan sering membahasakan: Jangan keluar rumah, nanti kamu dicuri oleh Sandékala, sebuah ungkapan sederhana namun efektif agar anak mereka tidak ngelaba di waktu magrib.

Sementara itu, hantu bernama Ririwa  lahir sebagai akibat adanya arwah penasaran. Seseorang meninggal dunia dan tidak sempurna. Dalam masyarakat Sunda, keyakinan tentang tidak diterimanya arwah orang meninggal oleh langit dan bumi telah berkembang sebelum Islam menyebar dan berkembang di Tatar Sunda. Arwah-arwah penasaran akan terus bergentayangan, menakut-nakuti manusia, agar terjerumus ke dalam perbuatan seperti yang mereka lakukan ketika masih hidup. Arwah-arwah penasaran itu "marakayangan" di antara langit dan bumi. Adanya mitologi seperti ini telah menghasilkan beberapa keyakinan dan pitutur dalam tradisi Sunda, seperti beberapa nasihat yang berbunyi: "Sing alus kalakuan dina hirup, bisi dina waktuna maot engké jadi ririwa!".

Apakah cerita tentang Sandékala, Ririwa, dan hantu lainnya hanya sekadar dongeng dan  mitos saja  atau memang merupakan kejadian yang benar-benar dialami oleh masyarakat dan ada dalam kehidupan ini? Mitologi keberadaan hantu-hantu bukan hanya ada dan dikenal di masyarakat Sunda saja. Cerita tentang makhluk jahat seperti hantu ini bahkan ada dalam hampir setiap kitab suci agama besar. Dalam term Islam, hantu-hantu diberi nama Iblis dan Setan.

Untuk menjelaskan persoalan ini, tentu saja harus menggunakan analogi atau perbandingan yang tepat. Di zaman modern ini, cerita tentang hantu tentu saja telah dianggap sebagai dongeng usang. Manusia modern lebih memercayai virus komputer dan smart-phone daripada percaya kepada hantu. Padahal jika ditelaah secara cermat, virus-virus komputer dan smart-phone ini tidak jauh berbeda dengan hantu dalam sistem kerjanya. Komputer dan smart-phone merupakan hard-ware atau piranti keras diharuskan memiliki software atau piranti lunak untuk mendukung kinerja komputer serta smart-phone dengan maksimal. Ketika ada program yang tidak sejalan dengan piranti keras, secara tomatis aplikasi atau program tersebut disebut virus, membahayakan, program yang dapat merusak sistem.

Hantu ibarat virus. Piranti keras di alam semesta ini antara lain planet-planet, bintang-gemintang, satelit-satelit, asteroid, dan benda angkasa lainnya. Software di alam semesta ini terdiri dari hukum-hukum alam yang telah disematkan oleh Alloh, manusia sendiri sebenarnya merupakan software dalam kehidupan. Manusialah yang mampu mengoperasikan kehidupan, sistem yang ada dalam diri manusia ini yang akan membaca dan menerjemahkan bagaimana cara mengelola dan menjalankan kehidupan. Sebagai operating system kehidupan, dilengkapi juga dengan berbagai software lain seperti: agama, keyakinan, dan semangat hidup.

Manusia sebagai sebuah software (Rohani) akan mewujud menjadi hantu (virus) ketika di dalam dirinya sudah tidak dapat memberi manfaat kepada siapapun terutama dalam kehidupan. Ketika dia hidup juga akan disebut sebagai sampah masyarakat. Bahkan ketika dia meninggal pun, nafs-nya akan membentuk program-program jahat, dia akan menjadi virus semesta.

Memang benar, hampir setiap agama dan keyakinan memiliki pandangan serupa, ketika manusia meninggal sudah dipastikan telah putus dengan persoalan duniawi. Semua akan kembali kepada Alloh. Namun tentu saja, Alloh sebagai pencipta kehidupan ini telah menciptakan sistem supaya kehidupan tidak berlangsung secara acak dan tidak teratur, sekehendak pikiran mahkluk sendiri. Sebagai contoh: kita memiliki keyakinan, manusia meninggal, dia akan kembali kepada Tuhan. Tetapi kita pun harus memiliki rasa dan sikap merasa, akankah kita kembali kepada Alloh Yang Maha Suci ketika diri kita masih kotor dan dilumuri oleh dosa? Sangat mustahil, karena sistem yang telah diciptakan oleh Alloh telah mengaturnya demikian, minyak sangat sulit menyatu dengan air. Siksaaan yang sebenarnya bukan dilakukan oleh Alloh sendiri kecuali melalui sistem yang telah diciptakannya agar keadilan dan kemahakasihan-Nya tetap terjaga.

Sistem yang berjalan secara autonom, ketika salah, diri masih dipenuhi oleh kotoran, maka sudah dipastikan tidak akan dapat kembali kepada Alloh. Keadilan-Nya adalah memberikan kesempatan kepada manusia, bukannya berpikir untuk membersihkan diri dalam kehidupan, malah sebaliknya disia-siakan, sudah jelas manusia seperti ini akan berbah menjadi virus, sebuah program jahat yang merusak alam serta kehidupan.

Leluhur kita dalam mengeluarkan pandangan seperti adanya Sandékala, Ririwa, dan hantu lainnya tidak didasari oleh sekehendak diri. Semua dihasilkan melalui proses permenungan dan hasil dari renungan dalam kehidupan. Berlangsung telah sekian lama, bermilyar-milyar tahun lamanya. Hanya saja, pandangan dan pikiran leluhur kita sering kita sepelekan, padahal jika direnungkan dengan mendalam akan membawa kita pada sebuah kesimpulan, leluhur kita memang dipenuhi oleh keilmuan yang tinggi. 

Pandangan-pandangan mereka sering disembuyikan dalam siloka-siloka, agar kita sebagai anak-cucu mereka tidak lahir sebagai manusia-manusia auto-teks dan tekstual. Manusia fanatik yang menafsirkan kehidupan berdasarkan teks yang ada bukan didasari oleh kejadian yang sedang berlangsung.

Mang Engkos

Ditulis oleh: Sukabumi Discovery Pada Senin, 30 Januari 2017 | 00.57

Ku urang lembur, nalika masih jumeneng, sok disebut Si Gambréng. Da kitu ari urang lembur mah, sok gampang méré landihan ka papada. Di lembur mah, jalma anu sok ceceremed bisa disebut Si Ucing atawa Si Garong. Ka budak anu lihéy tuak-taék sok dibéré landihan Si Bajing. Malahan aya anu dilandih kucara ngilik kana karesep, kana baju anu dipaké, jeung ka artis anu ngeplés jeung dirina. Aya anu disebut Si Kumis, Si Kamprét, Dono, Bonéng, Gendon, Burineut, jrrd. Kitu ilaharna urang lembur.

Sebutan Gambréng ka Mang Engkos boga dumasar jeung alesan. Salah sahijina, kusabab mindeng riweuh, jeung dina ucapan atawa kekecapan sakarepna, kawas anu teu sieun keuna ku hukum, arék agama ogé darigama. Gambréng mertélakeun hiji kaayaan, teu stagnan, teu daék cicing, saharti jeung riweuh atawa gandéng baé. Sabenerna niti ka mangsa kiwari, mangsa nalika kecap-kecap jeung omongan geus pasuliwer mahabu kamana karep. Jaman kiwari geus waktuna disebut “Jaman Gambréng.”

Naon sababna urang lembur bisa gampang méré landihan ka papada ku cara basajan? Kahiji, embung dihésékeun ku pasualan basajan. Kadua, sangkan méré tanda kana personal-na hiji jalma. Kuring, kusabab dina badminton sok ngagunakeun leungeun kiwa, ku urang lembur sok disebut Si Kidal, keun baé asal ulah disebut Si Kadal wé. Kadal, dina mangsa kiwari biasa ditibankeun ka supir anu teu matuh.

Aya sababaraha conto kalakuan Mang Engkos anu bisa dijieun eunteung ku urang dina ieu kahirupan. Geus ilahar, jalma biasa meunteun kana kahirupan papada ku ukuran-ukuran anu geus ditangtukeun kalawan hiji konsénsus anu disatujuan ku cara bareng, umpamana ayana standar norma, kabiasaan, jeung aturan-aturan anu teu ditulis. Nalika aya jalma unggal poé tara pernah leupas tina samping jeung kopéah, masarakat bakal nyebut ka éta jalma Si Soléh atawa Si Bageur. Sabab ukuran di masyarakat, jalma soléh jeung bageur idéntik jeung atribut anu dipaké.

Mang Engkos jarang katénjo ka masigit, lain hartina teu ngagem agama Islam. Ngan sok dibarengan ku heureuy, nalika ditanya: kunaon kawas tara solat berjamaah ka masigit? Jawabanna: keun baé moal panasan. Keur ukuran jalma anu nyekel  pageuh kana papagon agama, tangtu jawaban samodél kitu mangrupa sikep nyeceléh. Geus sakuduna kana kaalusan mah kudu boga sikep panasan, apanan?

Teu jauh béda, dina hiji mangsa aya jalma katohian kapanggih keur ngadon barang dahar dina wanci tengah poé, padahal harita geus asup tanggal sapuluh bulan puasa. Méméh ditanya geus ngajawab: “ Duh tétéla, bulan puasa mah bener-bener bulan berkah, ngadahar sangu poé jeung lauk asin wungkul ogé mani karasa ni’matna..”. Ucapan samodél kitu tangtu teu nyurup jeung ugeran norma agama. Ngan, ngaranna ogé dina kahirupan, hal samodél kitu mémang mindeng kaalaman, aya dina paguneman masarakat, lain diaya-aya.

Jauh saméméh ramé istilah “nganistakeun agama”, dina kahirupan masarakat mindeng kaluar lulucon, nalika budak dititah ku anu jadi kolot: “ Jang, geura solat!”, ku niat heureuy, éta budak ngajawab kalawan hampang: “ Ah, solat mah nomer dua, Ema.” Da bener, nu kahiji mah syahadat. Ngan ulah kumawani ngaluluconkeun agama kucara kitu dina mangsa kiwari mah, rék dina paguneman atawa status médsos, bisi dicerek ku sebutan ‘nganistakeun’ agama.  

Pakasaban Mang Engkos jabrugan, kana naon baé: dagang hayu, macul ogé hayu. Di lembur mah sok disebut henteu bauan. Béda jeung urang anu hirup di jaman sagala ngareunah. Sarjana Pertanian baé masih aya anu nyingsatkeun calana nalika brus ka sawah. Aéh, da mémang bener kitu kuduna, moal enya ngadon gupak ka sawah kudu maké sapatu jeung calana panjang?

Kontéksna mah kieu: Sarjana Pertanian téh ngan sebutan wungkul dina jaman kiwari mah, teu boga harti siap ngokolakeun tatanén. Anu matak teu anéh, lamun urang nanya ka barudak sakola hayang jadi naon, jawabanna loba anu milih: hayang jadi pagawé. Keun baé da hirup mah mémang pilihan, teu kudu digeureuh-geureuh.

Tiap jalma mémang béda dina cara nyanghareupan kahirupan. Mang Engkos bisa disebut saurang abangan lamun ceuk Clifford Geertz mah. Ngan di lembur mah teu apal kana téori jeung sebutan-sebutan sosiologis saperti kitu, ku urang lembur mah cukup baé dibéré landihan, Si Gambréng. Sebutan kameumeut anu napel dina diri Mang Engkos, tug nepi ka ninggalkeun ieu alam dunya.


Teu jauh béda jeung umumna jalma, nalika dikurebkeun, pada nganteur ku papada. Dina ngalakonan kahadéan samodél mulasara mayit, masarakat jarang jeung tara noong kana kalakuan nalika hirup hiji jalma. Nu diudag nyaéta, urang ogé dina mangsana bakal dipulasara kunu lian. Euweuh jalma anu maot tuluy mulasara dirina sorangan.


Pa Ajat Guru Klasik

Ditulis oleh: Sukabumi Discovery Pada Sabtu, 28 Januari 2017 | 13.03



Kamari, Pa Ajat mulih ka jati mulang ka asal. Salah saurang guru anu kungsi ngatik barudak Balandongan ku cara midangkeun téori klasik pangajaran. Pagalo rasa dina diri, antara sedih, hambar, jeung nineung kana kajadian sababaraha taun ka tukang nalika diajar ku Pa Ajat jeung waktu ngajar babarengan jeung almarhum.

Rasa sedih nyaliara kusabab iber “mulang”na Pa Ajat ngadadak, ti saprak pindah ngajar ti SD Balandongan ka MTs jarang patepung jeung Pa Ajat. Rasa hambar dilantarankeun loba carita, pangajaran di sakola dasar ayeuna geus leuwih ti misti, para pamilon atikan kudu dibawa ka alam atikan modérn, tapi can manggih bentuk anu jelas kumaha atikan modérn téh?

Judul di luhur, Pa Ajat mangrupa salah saurang guru klasik, lain rék ngaléléwé lamun cara dina ngatik barudak di sakola masih ngagunakeun cara-cara tradisional. Sok salah harti, saolah anu disebut klasik téh tradisional, kadieunakeun pada nyebut tradisional sarua baé jeung kuno, teu modérn, antukna nyebut katinggaleun jaman. Padsahal mah, kanyataan anu sabenerna keur lumangsung nyaéta, jaman geus ditinggalkeun ku urang!

Dina taun 1986-1992, Pa Ajat salah saurang guru anu dibéré kapercayaan ku sakola, dina mangsa éta pisan ditugaskeun ku Kepala Sakola kudu tetep jadi wali kelas genep. Naha? Sing horéng kusabab kakeyeng dina ngatik barudak kelas genep éta, ti generasi lanceuk-lanceuk kuring nepi ka adi kuring sorangan, geus bisa mawa sakola meunang sababaraha préstasi, utamana dina prak-prakkan EBTANAS (Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional). Mangsa harita mah kacida hésé para pamilon atikan anu aya di SDN Sudajayahilir I bisa nembus Nilai EBTANAS Murni (NEM) nepi kana angka 43.

Keur kuring jeung barudak Balandongan, Pangkalan, ogé Lemburpasir, Pa Ajat kawilang guru nu teges di jaman éta. Disebut teges lain hartina galak, tapi obyéktif dina sagala rupa, utamana dina méré peunteun ka para pamilon atikan. Dina meunteun jeung méré niléy ka barudak sabréhna, euweuh istilah niléy katrol, anu asalna aya di handap tuluy dikérék ka luhur sangkan jadi naék. Peunteun 3 mah 3 baé.

Anu matak nepi ka méméh taun 1998 mah, méméh alam réformasi jeung sagala kamerdikaan hirup neumbrag dina kahirupan, lain hal anu anéh nalika aya pamilon atikan anu teu naék tingkat ka kelas anu leuwih luhur. Anu jadi kolot budak ogé tuhu kana aturan sakola, budak teu ditaékkeun téh kusabab kudu ngulang deui pangajaran anu diapal cangkem di kelas asal.

Hal di luhur mangrupa ciri, guru-guru anu kawilang guru klasik geus bisa nganjang ka pagéto, ngatik barudak sangkan bener-bener hirup dina sikep obyéktif, teu gampang pundungan komo barbarian jeung belikan sulit ati mah. Ngatik barudak ku pasualan basajan, kudu daék tanggungjawab jeung narimakeun kana kanyataan.

Teu naék kelas lain bodo, tapi kudu diajar nanggungjawabkeun kalakuan anu dipilampah salila sataun ajaran. Jarang aya kolot anu sasadu baru luwu-léwé sangkan budakna tetep ditaékkeun ka kelas anu leuwih luhur, euweuh alesan éra! Dina éra-na ogé kudu siap ditampa boh ku budak ogé ku anu jadi kolot.

Sikep obyéktif Pa Jajat anu séjénna nyaéta tara talalangké dina méré hukuman ka barudak anu ngahajakeun bandel. Diceprét, diciwit, atawa disetrap. Barudak baong mah pada apal nalika Pa Ajat ngmong: Hayang Kembang Gula teu? Hartina hayang diciwit teu? Nalika aya pamilon atikan anu ngadon nundutan di kelas, geus pasti langsung diceuceuh ku cai sagelas. Lain galak, da bener kudu kitu, budak dibéré hukuman samodél kitu sangkan mikir, kelas lain tempat saré, kira-kira arék ngadon saré mah geus baé cicing di imah. Anu rugi lain sasaha, tangtu pamilon atikan kénéh.

Métodé atikan klasik mémang saperti kitu, udaganna nyaéta sangkan barudak miboga sikep sopan, ngarti, jeung teu ngalobakeun lulucon. Meredih sangkan barudak boga sikep adil dina nyanghareupan hirup, antara heuheuy jeung deudeuh, antara seurieus jeung gogonjakan.

Hal penting anu aya dina diri guru-guru klasik nyaéta sumanget dina ngajar ngéléhkeun kana matéri anu ditarima tiap bulan. Tara kacaritakeun aya guru anu ngarahuh kusabab digajih ku nagara ngan mahi keur meuli béas sadékaeun, jarang guru-guru anu ngaguar iraha gajih naék jeung meunang tunjangan itu ieu. Anu diwangkongkeun ku para guru klasik nyaéta: kumaha cara ngaronjatkeun atikan ka para pamilon atikan.

Salah sahiji conto kumaha rongkahna sumanget guru klasik nyaéta: Kepala Sakola SDN Sudajayahilir I, Pa Atang anu imahna aya di Baros kungsi leumpang mapay galengan sawah kusabab harita mah hésé kénéh angkutan umum. Teu protés kudu dibéré waragad transportasi ku sakola, teu wani umang-omong ka sasaha, teu ngarahuh komo dibarengan luh-lah mah. Lempeng baé, da isukan ogé tangtu bakal ngalakonan hal anu sarua.

Jaman ayeuna, méméh Ujian Nasional ,tiap sakola sok ngayakeun pengayaan atawa pemantapan, geus pasti di jaman kiwari mah teu leupas tina waragad anu kudu disayagikeun ku kolot barudak. Ditangtukeun gedéna ogé mangratus-ratus rébu. Da lamun euweuh pangleuleueur mah geus kacipta, sok tara laju, jalma geus teu jauh béda jeung mesin anu kudu dieusian ku béngsin baé.

Pa Ajat ogé boga cara, tilu bulan méméh EBTA jeung EBTANAS sok ngayakeun lés di sakola saba’da ashar, ti jam opat nepi ka satengah genep, teu unggal poé, biasanan nyokot waktu anu salsé, poé Juma’ah. Barudak teu diperes kudu ngayakeun waragad sakieu jeung sakituna, tapi dumasar kana kamampuhan barudak. Méré cepé ogé teu jadi sual.

Guru klasik ngaranna ogé, teu jauh béda jeung para sarjana abad pertengahan, kudu masagi kana rupa-rupa widang pangarti, pangaweruh, jeung widang séjén anu aya dina ieu kahirupan. Pa Ajat lain saukur bisa jeung jago matématika, ogé bisa sagala rupa, ngacapi, nyuling, ngagitar, maén piano, degung, ngawih, jrrd. Hiji talénta anu kudu diconto ku guru-guru kiwari. Sabab, anu disebut guru lain keur nyanghareupan sato galak atawa ingon-ingon anu gampang diatik kucara kasar jeung lemes. Anu disanghareupan nyaéta jalma anu sifatna majemuk, hétérogén sagala béda antara bakat jeung minatna.

Aya éta ogé anu ngomong, ah apanan manusa-manusa mangsa kiwari anu resep papaséaan téh éta mangrupa hasil atikan taun 80-90an. Lamun mah enya hasil atikan taun éta alus, meureun jalma-jalma mangsa kiwari bakal aralus, moal ngaheulakeun adu omong jeung adu regung!

Sing inget, kahirupan jalma mangrupa hiji patali marga, terus ngangsreug, bralna pasualan beuki mahabuna hal-hal anéh dina mangsa kiwari anu kaalaman ku generasi 80-90an lain kusabab dihasilkeun ku mangsa harita, tapi kusabab mangsa kiwari baé anu beuki ngajauhan tina sumanget taun 80-90an. Loba faktor détérminan anu mangaruhanna, utamana widang-widang domain dina kahirupan samodél agama, politik, ekonomi, budaya, jeung pasualan sosial séjénna.

Sikep samodél di luhur, nalika urang boga kamandang nyalahkeun kana atikan guru-guru klasik kusabab salah dina métodé ngatik barudak sarua baé jeung nyalahkeun ayana papaséaan anu dilantarankeun ku pasualan agama téh kusabab aya Nabi. Anu jelas, dina diri urang ngan ukur boga sangkaan, mangsa ka tukang geus ngaréngsékeun tugas sejarahna, teu kudu dihadirkeun deui dina mangsa kiwari.

Urang malah boga anggapan, beuki goréngna mangsa kiwari kusabab naon anu dilakonan dina mangsa ka tukang. Hartina loba hal alus geus dipiceun dina ieu kahirupan. Urang Baduy, ti baheula nepi ka ayeuna tetep nyekel pageuh ugeran-ugeran hirup kumbuh di masarakat-na, tetep wé bisa hirup sauyunan. Jauh jeung urang, anu ngagulkeun diri salaku jalma-jalma modérn tapi masih resep ngagugulung sikep goréng. Urang téh sabenerna keur mundur jutaan taun ka tukang.

Teuing aya dimana, dina mangsa kiwari guru-guru anu miboga sikep saperti Pa Ajat. Diri sorangan ogé salaku guru masih baroraah jeung kacida jauh kudu disebut guru anu geus loyog jeung harti guru sabenerna.

KANG WARSA

Patlot Gambar dina Kahirupan

Di Sukabumi, malahan bisa jadi ampir sarua jeung di wewengkon séjén kungsi aya babasaan – nalika jalma nénjo kana paripolah jeung pamolah jalma anu kacida rupa-rupa-, “Ah, ngaranna ogé hirup, kawas patlot gambar!”. Keur nuduhkeun kajadian anu aya dina luar pikiran jeung logika biasana dipaké kekecapan, “ Aya.. aya wé!”. Cindekna, dina hirup jeung kahirupan mah sagala aya, sagala diaya-aya, jeung sagala nyampak.

Analogi patlot gambar kana kahirupan nandakeun sakitu kompléks jeung majemukna ieu kahirupan. Aya jalma anu boga rupa bodas, hideung, beureum, cokelat, jeung warna séjén. Ngawujud jadi hiji gambar atawa lukisan sampurna, lain saukur skétsa anu ngan midangkeun wawakil gambar tina gambar sagemblengna anu geus, keur, jeung bakal karandapan.

Gambar jeung lukisan bakal katénjo éndah ku urang nalika mosisikeun diri aya di luar obyék, ukuranna pas, henteu deukeut teuing, henteu jauh teuing. Sangkan dina nénjo éta gambar teu ngahasilkeun distorsi jeung kaburna panénjo kana obyék.

Sikep mosisikeun diri salaku subyék anu niténan obyék kalawan ati-ati jeung ‘détail’ disebut obyéktif. Sok sanajan kitu, salaku subyék, tangtu baé hasil pamikiranna ogé bakal moal leupas tina subyék diri, rasa, rumasa, rasio, haté, pagalo ngahiji. Diri urang niténan kana kajadian perang antara Paléstina jeung Israél, rasio urang ngomong: ah, éta mah papaséaan alatan pangaruh politik, marebutkeun taneuh.

Tapi di sagédéngeun éta, aya rasa jeung sanubari ngahasilkeun émpati nalika harkat jeung darajat kamanusaan dikekesek, barudak ditandasa, awéwé anu teu tuah teu dosa dipaksa-pirusa. Dina danget éta urang geus bisa ngajieun kacindekkan, anu jahat nyaéta jalma anu ngalakukan déhumanisasi. Rék naon baé agama jeung ageman anu dicekelna, nalika jalma ngébréhkeun sikep anu ngahina kana niléy kamanusaan, anu kitu ngaranna jurig!

Manusa salaku mahluk anu diciptakeun ku Alloh, kabéh jalma anu ngagem kayakinan téisme geus nyekel pageuh hiji kayakinan, Alloh anu pang obyéktifna dina sagala widang, dalil-dalil dina kitab suci mana baé mertélakeun, Alloh Maha Adil (Maha Obyéktif). Hartina, ngan Pangéran anu boga hak méré peunteun jeung niléy ka jalma, kusabab sarat utama hakim atawa anu ngahukuman nyaéta kudu boga sikep adil.

Ngan jalma, kusabab mahluk anu dibéré tugas salaku kholifah di ieu Bumi sok kumawani mosisikeun diri jadi Pangéran anu kudu ngahukuman kana kayakinan jeung ageman hirup jalma. Saolah bisa nangtukeun lempeng jeung sasarna kahirupan jalma lian, alesanna ngan kucara ngabandingkeun jeung sababaraha kajadian anu geus lumangsung dina mangsa ka tukang.

Dina kahirupan umat Islam baé, lain hal anu anéh; Sunni nyebut sasar ka Syi’ah, Syi’ah ogé nyebut sasar ka Sunni, malahan dina waruga dua aliran agama éta tug nepi ka ayeuna masih aya anu silih sasarkeun. Dina Sunni masih aya anu nyebut, sasar manéh, teu loyog jeung tuntunan rosul! Jadi, sabenerna lain hal anu anéh nalika dina kahirupan loba pisan sikep ngarasa pang benerna jeung kudu aya pihak anu jadi korban malah dikorbankeun.

Salian ti éta, teu saeutik dina kahirupan ieu jalma anu geus kumawani ngarebut obyéktifna Alloh tuluy diposisikeun jadi subyéktif. Contona: Aya babasaan, Alloh bersama kita. Ku tata basa ogé geus kaukur, sikep antrophomorfisme, méré atribut mahluk ka Alloh kaciri dina éta kekecapan. Kecap ‘Kita’ miboga harti pihak urang lain pihak batur.

Kalimah samodél : Alloh mihak ka urang-urang, tagtu miboga harti Alloh geus diposisikeun aya disatukangeun urang. Anu sakuduna mah, mahluk anu kudu mihak kana kawijakan-kawijakan jeung hukum-hukum ti Alloh, lain sabalikna Alloh anu dipapaksa kudu mihak kana kahayang urang.

Pihak séjén mah saolah sama sakali dijauhan ku Pangéran. Hiji pasifatan anu kacida patukang-tonggong jeung anu sakuduna. Padahal dina kitab suci ngajareblag dalil-dalil samodél: “ Innallaha ‘alaa kulli syaiin qodiir..”, hartina kakuasaan Alloh mah mutlak, bisa naon baé, teu bisa diwatesan ku sangkaan jeung dugaan urang salaku jalma anu dina ukuran ogé mangrupa atom anu leutik dina ieu kahirupan.

Akibat anu karasa nalika jalma-jalma pada boga sikep ngawatesan kawijaksanaan Alloh nyaéta bralna papaséaan jeung pacogrégan dina hirup. Adu omong jeung adu rényom pabener-bener, jeung anéhna antara pihak ieu jeung itu masih kumawani ngagunakeun jeung nyatut ngaran Pangéran. Lain kusabab cinta-cinta teuing ka Pangéran sabenerna mah, tapi bakating ku hayang lamun sikep éta jalma téh mémang meunang lisénsi ti Alloh.

Malahan lamun ditanya kalawan jero mah, ti iraha jalma geus meunang jawaban langsung ti Alloh lamun sikep jeung posisina aya di tempat anu bener jeung pangbenerna? Moal aya. Dina ayana ogé, geus pasti moal dibéja-béja ka batur da bisi disebut Nabi Palsu.

Ngeunaan Nabi Palsu, geus pasti nalika dina jaman kiwari aya jalma anu ngaku dirina meunang ilapat atawa wahyu ti Alloh tuluy diomongkeun ka sasaha, nyebut dirina kungsi ngalaman hiji hal saperti anu kungsi dialaman ku Nabi bakal disebut Nabi Palsu. Lain ayeuna wungkul, ti mangsa bihari ogé, ti jaman mangsa Nabi can ditutup geus aya jalma anu disebut Nabi Palsu .

Kadieunakeunna, aya anu disebut eufimisme, kusabab mangsa Nabi geus ditutup, saterusna keur jalma-jalma anu biga pasifatan saperti Nabi disebut baé ‘nu meunang warisan ti nabi”. Warisanna lain nanaon nyaéta nubuwwah atawa kanabian.

Jalma anu ngaku dirina salaku “pewaris nabi” tangtu kudu ngébréhkeun pasifatan Nabi. Kuring can kungsi maca dina sajarah aya Nabi anu gedé adat komo sok babadug jeung tétéjéh mah. Komo nabi-nabi Israilliyat mah, lolobana mentingkeun sikep tawadhu jeung ngéléhan.

Aya anu boga tafsir sorangan jeung nyenyekel fatwa, umpamana: nalika nénjo kamungkaran kudu dilawan ku leungeun, lisan, atawa haté. Saéstuna nu diperedih dina éta hadits lain pilihan ku tilu fasilitasna tapi sikep dina diri urang kudu ngalawan jeung ngajauhan kana kamungkaran.

Ngan kusabab urang geus kagok borontok kalapang belang geus umaku diri salaku “pewaris nabi”, teu jadi soal babadug ka batur ogé anu penting kayakinan urang najeur di ieu Bumi. Boga anggapan geus meunang peuteun 10 ti Alloh, keun baé manusa séjén raheut haté jeung perlaya ogé. Maranéhna teu sadar, jalma séjén ogé mahluk Alloh, diciptakeun ku Alloh.

Tug nepi ka iraha baé ogé, jalma bakal tetep hirup dina kaayaan samodél kieu. Udaganna lain akhérat sakumaha anu sok mindeng diobral jeung diomongkeun, tapi kamashuran dunya. Saha anu teu betah di dunya? Saha anu teu sedep kana artos? Lamun enya mah diri urang boga kayakinan: Jihad di Jalan Alloh terus perlaya bakal langsung dijamin asup ka sawarga, naha atuh urang teu arindit ka Paléstina? Tandana urang téh mémang masih baretah cicing di dunya.

Kusabab dunya mah milik kabéhan, tong sok geruhan. Saha baé, utamana urang salaku umat Islam kudu mintonkeun sikep rosul, ngan ka bangsa deungeun anu ngaradon cicing di ieu nagara ogé sarua, ulah arumaing, tuluy sakadaék ngagalaksak meulian taneuh geus dibeulian tuluy diantep, komo sabari melak cangkéng dina taktak asa aing pang heueuhna. Tong nyalahkeun warga pribumi lamun dina hiji mangsa kaboga maranéh bakal direbut deui.

KANG WARSA


Aku Si Bidak Catur

Ditulis oleh: Sukabumi Discovery Pada Jumat, 27 Januari 2017 | 03.25

Di tahun 1997, saat duduk di bangk
u SMA, setiap malam senin saya sering menyimak Mara FM, acaranya bagus, mengupas persoalan politik. Di tahun itu, Orde Baru sedang berada di ambang keruntuhan. Terlalu sering menyimak bahasan-bahasan politik tersebut telah menyeretku pada pikiran "Orba" akan segera lengser. Banyak pertanda, salah satunya, media telah tampil berani melakukan kritik terhadap Pemerintahan Orba, seperti yang dilakukan oleh D&R menjadikan foto Pak Harto di sampul majalah tersebut berbingkai Raja pada kartu Remi.

Antara tahun 1996-1997 itu wajah perpolitikan semakin menghangat, isu kontroversial :Mega-Bintang menjadi wacana renyah di rubrik politik hampir setiap media. Tabloid dan Media bergenre Yellow Paper semakin marak, Orde Baru sering mewaspadai: ini tanda kebangkitan kembali Komunisme! Saat wacana dalam Yellow Paper semakin menjamur ini masarakat mengonsumsinya dengan renyah. Isu-isu kedekatan Pak Harto dengan kelompok Islam, lahirnya ABRI Hijau, munculnya isu-isu pelengseran Pak Harto. Krisis moneter berjalan setahap demi setahap menggerogoti perekonomian negeri dan kawasan ASEAN.

Saya menulis saat itu, di majalah dinding sekolah tentang perpolitikan Indonesia tentu saja dengan sikap sok tahu. Tulisan dalam bentuk satire itu mengakibatkan dipanggilnya saya oleh wakasek kesiswaan SMANSA: Bapak Tjoetjoe, beliau mengingatkanku: Kau tulis saja sastra, jangan menulis artikel seperti itu, mau kau dipanggil oleh yang berwajib? Aku jawab: iya, Pak!

Di tahun itu, sebenarnya saya pun pernah dipanggil oleh Kantor Desa: Kau cucuku, jangan kau aneh-aneh dalam memandang pemerintah. Di kampungku, lahir gerakan Darul Arqom, kalian pasti tahu itu DA ya mirip dengan DI, hanya saja bidikan utamanya persoalan perekonomian. Banyak para pemuda menjadi anggota gerakan itu. Untuk menjadi anggota DA, saya tidak terlalu mood, siapapun tahu, anggota dalam gerakan apapun hanya akan dijadikan martirdom saja, tak lebih dari itu, pasukan tempur atau semacam pion yang tidak tahu apa-apa hanya terpikat oleh semangat utopia perbaikan.

DA sering mengiming-imingi pengikutnya dengan: Jihad, Hijrah, dan Sorga. Tiga klausul utama dalam Islam yang diputarbalikkan pemaknaannya dari umum ke khusus. Eksistensi gerakan yang lahir dari rahim perlawanan terhadap kapitalisme ini bermula mengakar di Malaysia, dampak susulan darinya lahir varian ancaman yang diancam-ancamkan: suanana dini hari mencekam dengan adanya isu ninja, pembunuhan para ulama yang bermula pada isu pembunuhan kepada dukun santet, sampai saat ini belum ada yang mengakui, kelompok mana yang bertanggungjawab terhadap munculnya isu tersebut. Meskipun jika melihat pergolakan sejarah: perseteruan kerap terjadi antara ulama-santri dan kelompok komunis, namun kelompok komunis pun tidak pernah mengakui mereka berada di balik aksi terror ninja tersebut.

Dalam kondisi karut-marut negara seperti di atas, telah menjamur pemikiran-pemikiran pengideologian agama. Politik aliran berbasis keagamaan merambah ke kampus-kampus dan sekolah-sekolah. Mereka mengkader anggota-anggota baru berbanding lurus dengan semakin menjamurnya gerakan-gerakan kiri dan aliansi kelompok urban perkotaan yang lebih dominan berhaluan kiri. Demonstrasi massa sering diberitakan oleh BBC siaran Bahasa Indonesia, dikonsumsi oleh masyarakat setiap pukul 20.00 WIB. Negeri ini telah menjadi kue raksasa yang digerogoti oleh para pemegang kepentingan. Isu disintegrasi bangsa mencuat. Mayoritas kita tidak terlalu konsern terhadap hal itu sebab harga emas lebih menjadi fokus perhatian masyarakat.

Krisis multi dimensi itu memang nyata senyata-nyatanya. Semua menudingkan kesalahan kepada penguasa, terlalu memokuskan kebijakan pada kestabilan politik, bukan persoalan ekonomi. Padahal hal sama pernah terjadi di era Orde Lama, Vivere Pericoloso itu terjadi saat Bung Karno tetap bersemangat berpidato persoalan politik sementara harga-harga sulit terjangkau hingga inflasi besar-besaran tak terbendung, antrian minyak tanah dan kelangkaan sembako pun tercitra di era Orde Baru mirip dengan Orde Lama.

Kesimpulannya: sutradara adegan-adegan dalam sandiwara politik negeri ini sebetulnya sama. Sudah pasti semua menuding: kelompok iluminasi dan sempalan Yahudi garis keras menjadi agen pengrusakan negeri ini. Tudingan itu disempurnakan oleh terbitnya buku Garraudy: Yahudi menggenggam dunia, Buku Toto Tasmara: Dajjal dan Simbol Setan. Dan terus terang, bagi Saya pribadi, misteri itu sampai saat ini masih merupakan hal yang rumit, apalagi di zaman sekarang, isu-isu kontroversial semakin bersifat kompleks. Kita, tetap berperan sebagai pion-pion di atas papan catur. Permainan usai, tinggal dipasang kembali oleh para pemain yang bermain sambil terbahak-bahak, menikmati kopi, susu, dan hidangan enak.


Ti Jaman Oma Nepi Ka Jaman Ormas

Ditulis oleh: Sukabumi Discovery Pada Kamis, 26 Januari 2017 | 09.51

Rhoma Irama - Kacida...!
Ku: Kang Warsa

MOAL aya lagu anu ngeunaheun dihariringkeun nalika bagadang iwal ti lagu Begadang Oma Irama. Euweuh laasna. Lagu-lagu dangdut taun 70-an nyirikeun orkés melayu sajati. Wirahma jeung intonasi disampurnakeun ku ‘ketukan’na anu ngajadikeun lagu dangdut harita bisa leuwih populér dibandingkeun  lagu dangdut kiwari.

Ku kamotékaran jalma, lagu-lagu dangdut ayeuna mémang bisa disebut leuwih canggih tina waditra anu digunakeunna, ngan tara kuat lila, cukup tilu bulan populér geus kagerus deui ku lagu séjén. Lirikna mindeng midangkeun kanyataan hirup wanoja néo-urban.

Oma Irama boga panglerer Si Raja Dangdut. Nepi ka taun 80-an mah jadi harepan sing saha baé anu mikareueus kana lagu dangdut. Artis-artis anyar ogé loba anu hayang jadi kawas Oma. Umpamana Asep Irama jeung Abim Ngesti. Dina radio transistor jeung tape recorder mérék JVC, lagu-lagu dangdut Oma Irama disetél kalawan tarik nakeran, rék di tiap imah, di warung-warung, jeung dina kandaraan.

Di jamanna, Oma pada ngagul-ngagul jeung pada nganti-nganti ku masarakat. Kawilang hébat nalika salah sahiji kota bisa ngadatangkeun Soneta Group. Lapang-lapang geus pasti dipinuhan kunu lalajo, pagelek-gelek, heurin usik.

Tiap bioskop anu muter film Oma Irama bisa ngahasilkeun duit nepi ka mang ratus-ratus rébu dina itungan minggu. Para nonoman ti lembur paheula-heula ngalalajoan film Oma Irama, ngéléhkeun film-film India jeung Barat.

Urang  lembur anu teu kungsi lalajo di bioskop, sataun sakali dina acara samen sakola bisa lalajo film Oma ku ngayakeun Layar Tancep. Saolah, sing saha baé milu neuleuman acting-na Raden Haji Oma.

Ampir tiap widang kahirupan aya dina lagu-lagu Oma.  Ti mimiti pasualan nagara nepi ka agama, sosial, politik, tug nepi ka moralitas. Hirup kumbuh masarakat Indonésia, hadir ngawujud ngahiji dina lagu-lagu Oma.

Hal éta anu jadi sabab, lagu-lagu Oma bisa ‘Laris Manis’ di pasaran. Jigana can kungsi aya artis atawa band di ieu nagara anu bisa ngéléhkeun produksi jutaan kasét sakumaha anu geus dilakonan ku Oma jeung Soneta.

Dina nadah invasi atawa serangan lagu-lagu jeung genre music deungeun, Oma boga cara jitu. Mimiti asup taun 70-an, lagu-lagu India nu boga ciri duet vokal ditadah ku Oma. Harita masih jarang para artis dina ngalagu midangkeun duet vokal, kalolobaanna solo. Tarékah Oma boga maksud sangkan lagu doméstik tetep leuwih dipikareueus ku masarakat.

Nalika invasi musik Barat – utamana genre rock – asup ka ieu nagara, Oma nyawad ku cara alus jeung lemes. Sababaraha lagu –sok sanajan dangdut – diasupan unsur rock. Oma bisa disajajarkeun jeung gitaris Deep Purple.

Masarakat Indonesia, khususna para nonoman di wewengkon kota, dina waktu éta mimiti mikareueus kana genre musik rock, band-band aliran cadas mimiti mahabu. Ku Oma teu dicarék, tapi diakomodir ku cara nyokot  salah sahiji band aliran rock jadi  musuh utama dina salah sahiji filmna.

Nu dipintonkeun ku Oma dina film Darah Muda nyaéta awut-awutanna jalma anu deukeut jeung lagu-lagu rock. Saolah méré béja, aliran rock mah leuwih deukeut kana obat-obatan, free-sex, jeung hirup nu teu boga aturan. Epilog film Darah Muda kacida jéntré, lagu dangdut tetep jadi lagu anu boga tempat dina haté masarakat, lagu séjén sabangsaning rock ngan saukur nyémah.

Anu  mikaresep kana lagu-lagu rock dina taun 70-80an tangtu ngan saukur bisa baketut hasem. Sabab dina médio taun 80-an, Oma medalkeun deui film Menggapai Matahari, beuki kaciri klimaks papaséaan antara Dangdut jeung Rock.

Ikang Fawzi minangka wawakil aliran rock dicirikeun salaku jalma anu ‘ugal-ugalan’, sakarep manéh, jeung resep ngumpul ngariung sabari cacalakatakan, teu némbongkeun sikep moral salaku bangsa timur anu handap asor. Hal ieu, mémang kungsi ngarahetan haté jalma-jalma anu mikaresep aliran rock.

Ngan tetep baé, papaséaan kusabab béda aliran musik henteu leuwih parna alabatan papaséaan anu dilantarankeun ku pasualan agama jeung politik. Teu matak nimbulkeun korban rébuan nyawa jeung harta. Bandingkeun jeung papaséaan alatan pasualan politik, umpamana akibat Perang Dunia I jeung II, Pemberontakan PKI Madiun, jeung G30SPKI.

Kadieunakeun mah, antara jalma anu mikaresep aliran dangdut jeung rock milih jalan séwang-séwangan, leuwih milih kréatifitas anu positif tibatan marebutkeun paisan kosong.

Ti jaman Oma kénéh, papaséaan horizontal geus aya kalawan ‘scoop’ anu kawilang leutik. Dina kahirupan masarakat can ngawujud ormas, OKP, jeung Forum-forum. Masarakat ngan bisa dibédakeun ku tagogna, jalma anu mikaresep kana dangdut boga tanda, buuk galing, dipanjangkeun semet taktak.

Nonoman anu mikaresep lagu rock boga ciri, buuk di-skin gigirna, calana jeans metet, sapatu kawas tangtara, kacamata hideung. Sok sanajan kitu, tara silih cawad, haré-haré baé, nalika aya pamuda anu maké kacamata hideung ulin ka lembur paling diheureuykeun: henteu poék, jang?

Oma lain déwa, anu ngaranna jalma keuna ku mangsa kolot. Perlu reureuh. Pilihanna basajan, dina mangsa pakokolot: rék milih jadi Begawan/resi atawa rék milih jadi politisi? Enya, pilihan dina kahirupan mangsa pakokolot saolah ngan aya dua. Kabéh ogé geus apal, dina mangsa pakokolot, Oma nyokot pilihan jadi politisi.

Pilihan jadi politisi-na para inohong dina mangsa pakokolot di ieu nagara dijadikeun eunteung ku generasi 90-an. Ceuk  sosiolog saperti Koentjaraningrat , ciri utama masarakat  modérn nyaéta miboga pranata sosial, paguyuban-paguyuban, jeung wadah.

Ayana wadah boga dua maksud, kahiji keur nandéan aspirasi ti jalma-jalma anu boga maksud sarua, kadua ngabahékeun aspirasi kana wadah anu leuwih gedé. Kawas panyiuk.

Asup kana mangsa réformasi, ormas, OKP, jeung forum silaturahmi dina sagala widang kahirupan breng tumuwuh kawas supa dina usum ngijih. Lain ngan remaja masjid jeung karang taruna wungkul di lembur téh, ku jaman ayeuna mah, jelemana éta-éta kénéh tapi bisa asup jeung jadi anggahota sababaraha ormas.

Malah teu saeutik jalmana éta-éta kénéh tapi jadi pengurus sababraha ormas. Di hiji lembur bisa nepi ka aya puluhan ormas anu dibentuk ku pamaréntah atawa mémang mandiri jeung indepénden.

Salah sahiji conto, di salah sahiji kantor atawa dinas kusabab béda bidang jeung séksi bisa ngawujud sababaraha lembaga gumantung jumlah bidang jeung séksina. Aya forum ieu, forum itu, forum pemuda, forum lansia, forum aki-nini, forum ustadz, forum pendeta, forum balita ogé aya ngan eusina kolot.

Ormas jeung OKP anu diwangun ku masarakat kalawan indepénden ogé teu éléh loba,  ti mimiti anu diadegkeun ku para nonoman, kelompok marjinal, tokoh masarakat, alim-ulama, jrrd. Kabéh boga cekelan séwang-séwangan. Disampurnakeun ku ormas dadakan anu biasa disebut ormas tuk-cing: dibentuk tuluy cicing.

Tiap ormas jeung OKP baroga seragam séwang-séwangan, aya anu nyirikeun nasionalis: dina saku seragam dipasangan ku logo kabangsaan. Aya ormas anu nyirikeun agamis: kamamana teu weléh disorban digamis gegeleberan. Aya ogé ormas anu teu kaciri da nyebut dirina salaku ormas senyap: kawas neo komunis.

Séwang-séwangan boga kapentingan, ngaranna ogé jalma, kapentingan anu utama biasana teu jauh jeung  pasualan eusi beuteung kumaha carana sangkan waktu balik ka imah dapur bisa ngebul jeung aseupan henteu nangkub!

Lobana kapentingan ngabalukarkeun silih rebut jeung paheula-heula. Jalan macét, hartina keur muru kana kapentingan jeung tujuan  anu utama dibarengan ku silih séréd, paheula-heula, sok aya anu dibarengan ku silih siku jeung babadug. Aya anu boga sifat koloteun aya ogé anu boga pasifatan bubudakeun, teu kaop kadupak sok langsung ngabaung tuluy bébéja ka kolotna.  

Isuna sarua baé, ti jaman Oma Irama nepi ka jaman Ormas, tiap jalma boga kahayang, hayang hirup leuwih maju, leuwih makmur, jeung leuwih-leuwih séjénna. Teu salah kabéh ogé da éta mah sifat dasar manusa, kacida manusiawi-na. jadi salah nalika jalma boga sikep leuleuwiheun, kaleuleuwihan, jeung hayang dirina leuwih tinu lian. Éta pisan anu jadi cukang lantaran bralna papaséaan.

Tina Nokia Kana Nu Kieu

Handphone Nokia Jadul Pisan...!
Ku: Kang Warsa

Kahirupan urang geus asup kana hiji jaman anu disebut maju samaju-majuna. Hartina lain saukur maju, tapi mémang teu saeutik jalma anu samaju-majuna, kumaha bréhna. Ciri utama jaman beuki maju kacida loba: nalika  macét - di jalan -  geus pasti klakson mobil jeung motor réang disarada, da hayang geura maju. Beuteung ogé pipilueun maju ka hareup, ku babaturan mah disebut geus jadi jalma déwasa hartina gedé wadah sangu. 

Jalma ditungtut kudu terus maju jeung laju, cicing saeutik disebut kuper, ngarahuh saeutik disebut pegat harepan, komo lamun saré baé, matak kalindes ku batur, éléh ku hayam!

Maju ka Beulah mana? Urangna anu maju atawa mémang rohanganna anu maju téh? Ieu pananya tangtu rada bau filsafat. Nya, da kitu pagawéan filsuf mah, cenah kudu nganisbikeun hal-hal anu geus dipandang mutlak. 

Loba jalma anu ngarasakeun: asa samporét waktu téh, poé ka poé, minggu ka minggu, teu karasa, asa sakeudeung. Nanya ka papada, rarasaan atawa mémang kitu di enyana? Pada gideg, teu apal naon anu kudu dijadikeun jawaban. 

Hukum dina fisika ngajelaskeun: kecepatan = jarak dibagi waktu (v=s/t), salah sahiji hukum dasar élmu alam: hartina kieu, nalika hirup urang beuki ngagancangan, rohangan anu aya mah angger atawa konstan, da jarak ti imah ka puseur dayeuh geus pasti ti jaman Abu Lahab dagang suuk nepi ka iraha baé ogé sakitu-kitu kénéh, bakal ngabalukarkeun heureutna waktu, waktu asa nyérélék, sakedét nétra.

Aya nu boga  alesan, ah.. ti jaman Suku Maya jeung Aztex mimiti nyieun almenak ogé beurang jeung peuting mah angger 24 jam. Jadi anu robah téh lain naon anu aya di luar diri urang, geuning diri urangna salaku subyék. 

Terus jeung terus, kahirupan di jaman kamajuan, diri urang diperedih kudu maju jeung laju. Di sababaraha wewengkon saperti Jakarta mah, pamilon atikan arindit ka sakola paisuk-isuk, malahan aya anu kaluar ti imah rebun-rebun kénéh. Telat sababaraha menit, rohangan tempat lajuna jalma geus dipinuhan ku batur, macét. 

Mobil jeung motor geus ngabaris ngéntép minuhan jalan, jalma-jalma tumplek blek ka jalan. Lamun diitung, rata-rata lila macét di jalan 1,5 jam x 2 (indit-balik), geura kalikeun wé (3 x 365 x 10): 24 = ampir 1,25 taun tina 10 taun hirup jalma dibéakkeun di jalan kusabab macét, 13% kahirupan jalma dipaké nungguan macét.

Beuki nyérélékna waktu, tangtu ngarobah kana sistem anu aya. Évolusi geus teu payu deui, diganti ku révolusi. Rubahna pasifatan jalma, tabéat, siklus alam, jeung kajadian-kajadian alam ogé kagerus milu gagancangan robah. 

Lain hal anéh dina jaman kamajuan mah antara usum hujan jeung halodo bisa silih témbalan, sakali séwang dina itungan bulan. Lain hal anéh, dina jaman kamajuan mah, loba jalma anu ngadadak beunghar jeung ujug-ujug miskin. Henteu anéh, dina jaman kamajuan mah barudak satepak anu pamikiranna koloteun. Umur ogé bareuki ngarurangan, nyaho-nyaho geus kolot baé.

Ti saprak jalma-jalma mimiti ngagunakeun telepon sélulér mérék Nokia nepi ka ngaburudul ponsél-ponsél kawas nu kieu, geus nincak kana 20-taunan. Mimiti Nokia digunakeun, jalma teu kungsi mikir lamun 20 taun ka hareup bakal aya ponsél anu leuwih ahéng tibatan Nokia. 

Dina jaman kadigjayaan Nokia, jalma ngan bisa ngomong jeung ngagogonjakeun: naon bédana Nokia jeung Nu Kieu? Barudak ayeuna moal kungsi ngalaman aya pananya samodél kitu –jigana mah-. Kecap Nu Kieu, dina jaman kamajuan ayeuna geus ngawujud lain saukur monyét deui, tapi geus jadi rupaning gadget jeung smartphone anu dijual-beulikeun kawas kacang asin, dipaké sapopoé, saha baé bisa ngagunakeunna, rék jalma beunghar, biasa, urang dayeuh jeung lembur. Lain barang anéh deui. Anu anéh ayeuna nyaéta nalika aya kénéh jalma anu ngagunakeun ponsél-ponsél jadul.

Pangaruh séjén tina jaman kamajuan nyaéta, kusabab waktu –karasa beuki nyérélék- loba pisan jangji jeung papada jalma anu teu kacumponan dina waktuna. Bener dina smartphone dipasangan jam digital, disetél alarm, jeung dikalénderan. Teu  cukup ku éta wungkul, ngahaja ngajieun agenda sapopoé, disetting notifikasina 10 menit méméh der acara. Ngan angger, loba pisan anu teu kacumponan saluyu jeung naon anu geus dijadwalkeun. Babasaan 'Jam Karét' mémang geus aya ti baheula ogé, ngan keur ukuran ayeuna mah lain 'jam karét' deui, tapi bisa disebut 'jam capruk'.

Di sagigireun éta, loba ogé hal alus anu dibalukarkeun ku kamajuan jaman. Di antarana: jalma bisa wanoh jeung saha baé dina dunya maya, geus euweuh hahalang deui, paguneman antara rahayat jeung pamingpin. Mang Ifey anu aya di Santiong bisa ngucapkeun: - Apa Kabar, Pa Presidén? -  ka Jokowi isuk-isuk ku cara nga-mention dina twitter, pasualan rék dijawab atawa diapilainkeun ku Jokowi mah lain hal. Jalma-jalma bisa ngawarangkong ti sikluk nu jauh tina karaméan jeung jalma-jalma anu saribuk, gogonjakan heureuy. 

Hal anu asalna kawilang pamali dilakonan ogé bisa dilakukeun , umpamana ngawangkong atawa chating di jamban sabari miceun, batur mah nyangkana urang téh keur diuk dina korsi kantor baé. Operasi plastik ogé bisa diganti ku aplikasi keur ngédit photo, kulit rék dibodaskeun atawa dicakeutreukkeun ngan perlu waktu dua menit.  Usaha online ogé beuki mahabu, barang nu biasa dijual 10.000 tilu, bisa dijual nepi ka 50.000 hiji-na. lamun ngilik ka dinya, angger baé, aya anu pinter jeung aya anu bisa dibobodo.

Mimiti usum ponsél, jalma biasa paagul-agul, nada dering patarik-tarik, aya ogé anu ngahaja disadakeun sok sanajan euweuh anu nelpon atawa nga-SMS, pura-pura ngangkat telepon, tujuanna sangkan katingali ku batur, eumm bogaeun hapé. 

Teu saeutik anu kagegeringan kusabab hayang ngabogaan hand-phone. Urang lembur bélaan ngahaja mamawa hand-phone kaulinan budakna, dipencétan kipédna nalika dina angkutan umum, semu disumputkeun, pura-pura nga-SMS. Aya ogé kabiasaan jalma neundeun hand-phone dina handapeun bantal, diusapan jeung ditangkeupan sagala. Hudang saré, tap kana hand-phone. 

Kadieunakeun, waragad SMS beuki murah, wanci ogé milu dimurah-maréh, SMS-an ti Isya nepi ka janari, wanci janari teteleponan nepi ka ceuli panas. Isukna, jalma geus jarang ngilikan kana buruan imah, naha dipinuhan ku jukut atawa barala? Nu pangheulana diilikan nyaéta hand-phone bisi aya SMS asup. Mémang teu kabéh jalma kitu, ngan kalolobaanna tangtu samodél seratan di luhur. 

Geus pasti di antara urang boga carita séwang-séwangan dina ieu pasualan. Ieu  mangrupa bekel keur caritakeuneun ka anak incu pagéto. Dina mangsa ka hareup mémang geus moal aya deui babasaan: Naon bédana Nokia jeung Nu Kieu? Barudak pagéto mah –kawasna- ngalap élmu ogé geus henteu kudu arindit deui ka sakola, cukup di imah ngaregepkeun guru anu keur live streaming ngaguar pangajaran. 

Ngan keukeuh, sakumaha maju jeung lajuna jaman, manusa tetep butuh waktu reureuh, cicing, niis, ngajauhan kahirupan anu beuki rongkah ku anu silih séréd. Lila-lila mah, kabéh bakal eureun jeung cicing. Jep… simpé.‎

Dikirim dari ponsel cerdas BlackBerry 10 saya dengan jaringan Indosat.

Rusiah Duyungson

Ditulis oleh: Sukabumi Discovery Pada Rabu, 25 Januari 2017 | 16.26


Pasti pada apal kana Duyungson? Boga babaturan sarupaning balsam ngaranna Afitson, Reumason. Kakoncara méméh ditarajang ku serangan Balsem Cap Lang jeung Balsem Cing Cau. Seungitna, khas.

Barudak ayeuna geus tangtu moal pati apal kumaha mabekna masigit dina waktu ashar atawa dina waktu pangajian minggonan ku bau Duyungson. Ku kolot-kolot di lembur dipaké keur ngubaran awak carangkeul, éncok, jeung lalilu. Can kasohor panyakit reumatik jeung asam urat harita mah.

Hasiatna lain nyinglarkeun carangkeul awak wungkul, ogé bisa ngahaneutan awak dina usum hujan. Kecap ngahaneutan awak ogé geus disalahhartikeun ku barudak jaman kiwari mah. Nalika aya para pamuda atawa nonoman ngomong ka babaturanna, “urang ngahaneutan awak, yu!”, dina mangsa kiwari lain arék ngabalur awak ku Duyungson, lah.. pasti apal naon maksudna.

Mémang can kungsi kacaritakeun aya marbot masigit anu salah dina wanci janari gedé ngahudangkeun masarakat. Jam tilu, meujeuhna ngaguheur kérék, marbot geus awong-awongan dina sapéker: “ Garugah.. garugahh… waktosna ka marasjid.” Jarang anu salah ku nyebut: “ Garugah.. garugah.. waktosna arangkat ka pasar!”. Tapi, dina wanci janari gedé, teu saeutik urang lembur anu arindit ka pasar, rék baralanja. Dina jero angkutan umum, bau khas Duyungson geus pasti kaambeu.

Kuring mémang teu kungsi ngalaman kumaha kahirupan barudak jeung nonoman dina taun 70-an, utamana di lembur pituin. Ngan, anu jadi uwa kungsi nyaritakeun ngeunaan Duyungson anu sok dipaké heureuy ku para nonoman taun 70-an.

Di Balandongan, aya saurang marbot masigit, kusabab geus kolot pangdéngéna kurang pati seukeut. Anu ngaranna nonoman, dina poé jumaah geus pasti diuk di masigit téh patukang-tukang. Nincak waktu lohor, anu jadi khotib sok méré tanda: takol bedug.

Para nonoman ngaromong ka éta marbot: Kang, bedug takol!

Si Marbot , kusabab keur meujeuhna anteng nundutan, kahudangkeun semu reuwas, katambah pangdéngé kurang pati seukeut, langsung nangtung, gantawang nyarékan ka para nonoman.

“ Nahaon siah, tudang-tuding ka aing,daék medu, aing mah teu hitut!”

“ Takol bedug!” Ceuk salah saurang nonoman bari metakeun jalma keur nakol bedug.

Para nonoman jeung barudak pating cirihil seuri nénjo kalakuan éta marbot. Aya anu ngaharéwos: engké peuting urang gawéan. Sawaréhna nyaram, ulah belegug ka kolot, doraka!

Uwa kuring jeung batur-baturna saperti Kang Apud kawilang barudak lengger, bandel, jeung beuki heureuy. Keur ngagawéan Si Marbot ogé bélaan meuli Duyungson ka warung Mang Ja’i. Duyungson dicoélan nepi ka béak satengahna.

“ Nu ieu urang eusian ku tai!”

“ Tai?”

“ Heueuh, caduk!!!”

Duyungson jeung tai digalokeun, tuluy ditutup deui, rapet pisan.

“ Tuluy  rék dikumahakeun?”

“ Deléh wé engké.”

Méméh maghrib, para nonoman geus karumpul di téras masigit réngsé wudlu heula di kulah. Si Marbot ogé geus aya di dinya. Kudu pangheulana meureun bisi katilep ku batur dina nakol bedug.

Kang Apud datang, gék diuk ngahiji jeung barudak séjénna. Dina saku calana pondok ngaluarkeun Duyungson. Tuluy muka tutupna. Kawas anu enya nyowol Duyungson, tuluy pepeta kawas anu ngabalur beuheung ku Duyungson.

“ Aing ménta, asa pasiksak ieu awak!” Ceuk Marbot.

Duyungson dibikeun ka éta marbot. Tuluy dicewol ku curuk, dikana dampal leungeunkeun, diusapkeun malur beuheung, beuteung, jeung tonggong. Ngarénghap semu nikmat.

“ Heg baé keur akang wé kabéh..” Ceuk Kang Apud.

Duyungson diasupkeun kana saku baju kamprét. Waktu magrib, jedur Si Marbot nakol bedug dipinuhan ku sumanget anu ngagedur.

----------
*) Dicatut tina kisah nyata, barudak Balandongan taun 70-an.

Béngkél Sapédah Kang Jajang


Sok sanajan jalan masih dibalay ku batu, can kasaba ku aspal, henteu laleucir kawas ayeuna, barudak Balandongan geus loba anu miboga sapédah dina taun 80-an katompérnakeun.

Unggal poé dina wanci kalangkang satangtung awak nepi ka wanci tunggang gunung barudak pating balicet sasapédahan, lamun keur usum halodo jeung geus usum sasapédahan.

Harita keur trend-tréndna sapédah BMX, kajaba seseg ogé ngeunaheun dijémping-jémping. Anu jadi dulur mah – kusabab masih pégo da umur karék nincak opat taun- nyebut sapédah BMX téh : Capédah Békékék, cenah.

Lain kusabab usum wungkul barudak bisa kabareuli sapédah jeung bisa sasapédahan téh. Pédah harita mah di Balandongan aya Kang Maman, sok dilandih Si Ayah. Gawé di Toko Sapédak Makmur.

Anu jadi budakna, Si Elan geus tangtu mangrupa budak anu pangheulana bisa jeung disebut ahli tur lihéy dina ngajalankeun sapédah. Kana galengan sawah ogé kawas anu euweuh kapaur, bisa dikebut malahan.

Para nonoman, dina taun 1987-an keur ngareuah-reuah Agustusan kungsi ngayakeun lomba balap sapédah. Sirkuit dadakan kalawan tagog basajan dijieun di kebon Kang Jajang. Anu jadi pamilon éta calagara di antarana: Kang Iyus, Kang Emi, jeung barudak séjénna.

Keur ukuran urang lembur mah, aya calagara samodél kitu mangrupa hiji kariaan atawa hiburan anu kawilang nyugemakeun. Sahenteuna, bisa éak-éakkan jeung surak saruka bungah. Heueuh, maklum di lembur.

Geus tangtu bisa diteguh, anu jadi pinunjul dina balap sapédah nyaéta Kang Iyus, incu pituin Kang Jajang. Lihéy jeung tapis dina ngajalankeun sapédah, ka Pangkalan ogé manéhna mah bisa kana galengan dina sapédah. Tong ngabayangkeun galengan sarua jeung gang anu dirabat beton, résikona diguling kana sawah  ledok.

Sapédah ruksak atawa ban kemps biasa diomékeun ka béngkél Kang Jajang. Hiji béngkél, bisa disebut kakoncara di wewengkon Balandongan jeung sabudeureunna. Barudak Cikundul, Cicadasgirang, Pangkalan, Lemburpasir, jeung Pasirpogor mah geus pasti narungrun sapédah ruksak ka éta béngkél.

Apal karbit bisa ngabeledug ogé apan dibéjaan ku Kang Jajang. Anu sok ngajieun bedil karbit, arék ku kaléng urut wadah kuéh atawa ku awi-gombong nyaéta Si Tedi Utun. Dina bulan puasa mah pada ngariung bedil karbit atawa bedil sundut téh ku barudak saentragan. Atoh nalika bedil karbit ngajelegur.

Béngkél Kang Jajang laku lain bohong. Dina uma-omé ogé tara hésé jeung tara lila, bisa ditungguan sagala, ayeuna datang, satengah jam bérés, sok sanajan sapédah téh ruksakna bener-bener ruksak.

Dina nincak umur 60-an, Kang Jajang geus jarang deui muka béngkél. Sakapeung sok dieusi ku Kang Maman, ngan teu pati mindeng kawas Kang Jajang. Dina taun 90-an mah geus jarang muka deui, tug nepi ka Kang Jajang mulang ka asal. 
 
|
Copyright © 2012. SUKABUMI DISCOVERY - All Rights Reserved

Contact Kang Warsa